Sabtu, 09 Juli 2016

BAGAIMANA DUNIA MELIHATMU ~ Chapter 1 - AKAR



10 tahun yang lalu...

“Salim, ibu dan bapak nanti akan berjualan sampai malam di Pasar Depok sehingga kami tidak bisa menyiapkan makan malam untuk kamu dan adik-adikmu, jadi kalau kamu selesai berjualan terlebih dahulu ibu titip adik-adikmu ya. Seta, Rudi, Ani jangan nakal di sekolah, belajar yang tekun supaya bisa jadi orang besar. Jangan seperti ibu dan bapak. Kamu juga Salim, ibu dan bapak berangkat dulu.” Ibu mengangkat barang dagangannya ke luar menuju ke motor yang telah di siapkan bapak.

“Baik bu.” Jawabku serentak dengan adik-adikku. Kami membantu membawa beberapa barang dagangan beliau dan setelah itu berpamitan pada ibu dan bapak kami.

Aku satu sekolah dengan adik-adikku, Seta yang hanya beda satu tahun denganku duduk di kelas lima, sedangkan Rudi berbeda tiga tahun denganku duduk di kelas tiga dan Ani duduk di kelas satu. Kami bersekolah di sekolah negeri yang dekat dengan rumah kami. Sejak Ani lahir, aku mulai membantu kedua orangtuaku berjualan dengan menjadi pedagang asongan di terminal. Biasanya  setelah pulang sekolah, aku mengantar pulang kedua adikku, kemudian mengambil barang jualanku dan pergi ke terminal untuk berjualan. Bila terminal ramai, biasanya barang daganganku akan cepat terjual namun bila sepi, aku harus berjualan sampai malam atau aku harus mencari tempat jualan yang lain. Sayang sekali sampai saat ini aku tidak berani untuk berjualan di tempat lain, aku berjualan di terminal karena aku memiliki banyak kenalan di sini dan sekalipun ada preman, mereka mengenal orang tuaku dan melepaskanku. Walau itu tidak sepenuhnya benar, kadang bila mereka lapar mereka akan minta gorengan yang aku jual. Tapi itu lebih baik dibandingkan harus dipalak di tempat lain. Di tempat lain, aku tidak akan pulang membawa uang sepeser pun tetapi aku juga akan pulang dipukuli. Hal ini sudah menjadi rutinitasku, dan aku bukanlah orang yang baru melakukannya, aku sudah melakukan ini selama enam tahun.

Apakah aku mempunyai masalah di sekolah? Aku tidak sempat membuat ulah, aku hanya bisa belajar sebisaku di sekolah karena aku tahu bahwa setelah aku pulang aku tidak akan sempat belajar. Merawat adik-adikku bukanlah hal yang mudah, ditambah lagi membersihkan rumah dan merapikan dapur. Kadang ada kalanya aku terpikirkan, bagaimana bila menjadi seperti anak-anak yang lain? Sepulang sekolah, bermain dengan teman sebaya dan belajar dibantu seorang tutor di rumah. Nilaiku tidak terlalu bagus namun tidak terlalu jelek, aku tidak menonjol di kelas karena aku bukan anak yang terlalu ramai, aku juga tidak pernah berbuat masalah. Aku merasa keberadaanku di kelas seperti angin, pernah aku terpikirkan untuk menyampaikan pada orang tuaku bahwa lebih baik aku tidak bersekolah saja. Lebih baik aku bekerja membantu mereka, dibandingkan aku duduk mendengarkan pelajaran yang sering aku pertanyakan ’kapan ini dipakai?’. Matematika memang pelajaran yang baik namun aku meragukan pelajaran itu juga, karena ketika aku membantu orang tuaku itu menghitung memang diperlukan sekalipun saat itu aku masih belum mengenal pelajaran matematika. Sekalipun aku pernah berpikir seperti itu, aku tidak pernah mengutarakan hal itu.

Hari ini adalah hari yang sama seperti hari yang lain, setelah pulang sekolah aku menjemput adik-adikku dan mengantar mereka ke rumah.

“Seta, Rudi, Ani, kakak mau dagang di terminal, jadi jaga rumah ya.” Aku mengatakannya sambil meletakkan tasku dan berganti pakaian .

“Baik Kak.” seru mereka serempak. Aku hanya bisa membalas mereka dengan senyuman, sekalipun mereka masih kecil mereka paham situasi ekonomi yang sedang orang tua kami hadapi. Selama aku berjualan, mereka membantu membersihkan rumah sebisa mereka. Bahkan sekarang Seta sudah bisa menyiapkan makanan bila aku pulang terlambat. Jujur dalam hati, aku bangga dengan adik-adikku. Aku hanya berharap aku bisa segera menghasilkan uang untuk membantu orang tua kami dan menunjang hidup adik-adikku.

Aku keluar rumah dan seperti biasa mengambil barang daganganku. Berjalan seperti biasa ke terminal dan mulai menjual gorengan yang aku bawa. Apa ada yang menyangka apa yang akan terjadi pada hari ini? Aku melihat seorang bapak yang nampaknya akan mencopet seorang ibu, bapak itu sambil menoleh-noleh mulai mengulurkan tangannya.

“GORENGAN-GORENGAN! PAK MAU BELI GORENGAN?!” jeritku. Sontak bapak itu menarik tangannya sambil mempelototiku, apa daya aku hanya bisa menatap polos padanya. 

“Bu, mau beli gorengan? Satu harganya tiga ribu.” Tanyaku pada ibu yang nyaris menjadi sasaran copet.

“HAH?! Minggir saya sibuk, lagi pula saya tidak suka gorengan” serunya.

Jangan marah, aku hanya berjalan melewati ibu tersebut. Bukan hal yang aneh jika ada yang merespon seperti ibu tersebut, namun sangat jarang bila meresponnya dengan amarah bila aku menawarkannya baik-baik. Kalau bapak pencopet tadi yang marah, rasanya wajar namun ibu ini, ah.. aku tidak mau berpikiran buruk. Setelah berputar mengelilingi terminal beberapa kali barulah daganganku habis dan sudah jam lima, waktunya aku pulang dan menyiapkan makanan.

“Mau pulang? Tidak bagi-bagi?” Tiba-tiba bapak yang aku gagalkan aksinya menghadangku.

Aku terkejut, dan mencoba lari. “Eits.. jangan langsung lari” ada seseorang yang menghadangku.

Aku panik, “Kenapa?” pertanyaan itu terlontar.

“Kami datang minta bayaran buat yang tadi.” Kata orang yang menghadangku sambil memegang erat tanganku.

Aku mencoba berteriak minta tolong namun dengan sigap bapak yang aku kenali sebagai pencopet itu membekap mulutku sambil berbisik “Jangan teriak di sini.” 

TAKUT... Aku mau pulang.... Ayah.... Ibu....Seta.... Rudi... Ani.... Siapapun.... TOLONG AKU....

Sekuat apapun aku meronta, mereka tidak melepaskanku. Sambil menyeretku ke tempat sepi, mereka mulai memukulku “DIAM!”  “SIAL, GARA-GARA KAMU KAMI TIDAK DAPAT APA-APA HARI INI” “Di sini saja”

Mereka mulai mencari uang di pakaianku, “WAH, ini lumayan!” “Hehehe..” Ketika mereka merampas uangku, aku mulai merasa marah! Aku mengigit tangan yang membekapku sekuat tenaga hingga tangan itu berdarah. “SIAL! KURANG AJAR KAU BOCAH!” Tangannya yang lain segera memukul kepalaku, sedangkan bapak yang lain membantunya memukuliku. “Bocah ini harus dapat pelajaran, kita hajar sampai tidak sadarkan diri saja” “Mati juga tidak apa, kita buang ke pembakaran sampah saja.” Aku merasa kepalaku penuh darah dan mulai tidak sadarkan diri. Aku hanya bisa berpikir, ‘KENAPA?’.

Aku terbangun di tempat yang aku tidak kenali, aku tidak bisa menggerakkan badanku. Aku merasa pusing, dan haus.

“SALIM!” jerit ibuku dengan penuh tangisan. Aku hanya berpikir apakah ini mimpi atau aku sudah mati?

“SALIM!!” ibuku memelukku erat, aku melihat wajah adik-adikku yang turut menangis seperti ibuku.

“Ibu, aku dimana?” ujarku namun suaraku tidak terdengar? Aku mencoba mengulanginya lagi namun aku tidak bisa mendengarkan suaraku? Ada apa ini? Aku berusaha bertanya, namun ibu masih histeris dan adik-adikku masih menangis. Seorang dokter datang dan menjawab pertanyaanku itu.”Nak, kamu sudah dirawat di rumah sakit selama lima hari dan tidak sadarkan diri. Kamu beruntung kamu bisa selamat, kamu ditemukan dengan kondisi yang sangat parah dan kami tidak bisa memulihkanmu sepenuhnya. Sepertinya pita suaramu rusak akibat patahnya tulang lehermu saat kamu jatuh dari gedung berlantai tiga. Sekarang kondisimu sudah normal, istirahat yang cukup karena kamu masih belum pulih.” Ah... Apa yang harus aku lakukan? Aku hanya bisa merasakan air mata yang mulai menetes keluar dari mataku.

Aku tidak tahu! AKU TIDAK TAHU! Demi membayar uang operasiku, ayahku mencoba mencuri di sebuah penggadaian. KENAPA? Dua hari setelah aku sadar, aku tidak melihat ayahku dan mencoba menanyakannya pada ibuku. Ibuku sambil menangis dan terisak menceritakan padaku, ayahku tertangkap saat merampok sebuah penggadaian untuk biaya rumah sakitku. Saat ketahuan merampok, ayahku dihajar orang di sekitar penggadaian dan meninggal di tempat. Saat ini ibuku mencoba membayar rumah sakit dengan menjual semua yang kami miliki dan beberapa tetangga yang simpati dengan kondisiku juga menyumbangkan sedikit uang mereka. Hatiku hancur! Aku ingin menjerit “MENGAPA AKU TIDAK MATI SAJA?! MENGAPA?!” aku menangis meraung-raung tanpa suara, hanya air mataku yang terus mengalir. “APA YANG SALAH? MENGAPA INI SEMUA TERJADI? TUHAN, INIKAH YANG HARUS AKU ALAMI?” Setelah aku selesai menangis, aku memaksa ibuku untuk mengeluarkan aku dari rumah sakit. Karena kondisi kami, rumah sakit mengizinkannya dengan kontrak bersyarat mengingat aku adalah korban pembunuhan dan masih kecil. Dokter yang merawatku ternyata membantu biaya operasiku, dia hanya bisa menatapku dengan sedih dan tak bisa berkata apa-apa. Aku menuliskan pesan untuknya “Terima kasih Dokter, Siapa nama Dokter?” Dokter itu menjawab “Fendi, Fendi Haryanto.” Dia beralih pada ibuku dan berkata “Ibu, maaf saya tidak bisa banyak membantu. Bila ada masalah, Ibu bisa mencoba menghubungi saya. Ini kartu nama saya.” Sambil menyerahkan selembar kartu nama dan berjalan menyelusuri lorong rumah sakit yang selama delapan hari aku dirawat di sana.

Setelah aku keluar dari rumah sakit, satu kenyataan yang harus kami hadapi adalah kami tidak memiliki apa-apa. Tidak ada ayah yang menjadi tulang punggung dan mengantarkan ibu berjualan, tidak ada alat-alat memasak, tidak ada kursi dan meja, tidak ada lemari, tidak ada televisi, tidak ada radio, tidak ada sepeda motor, tidak ada sepeda, semuanya tidak ada dan yang tersisa hanya pakaian, buku-buku pelajaran, alat tulis, tas, sepatu dan sandal. Malam itu, kami semua tidur bersama di atas kardus, yang kami syukuri adalah masih adanya rumah untuk kami bernaung. Aku tidak bisa tidur, aku terus terjaga. Sesaat aku mendengar isak tangis adik-adikku, kemudian aku juga mendengar isak tangis ibuku, mereka menangis sampai tertidur. Aku tidak bisa menangis, tidak ada yang bisa kutangisi ketika hatiku terasa kering dan darahku seperti berhenti mengalir. Inikah cobaan yang harus kami hadapi? Aku terus bertanya-tanya hingga pagi menjelang dan kami memulai aktivitas kami.

Selama seminggu ini kami mulai terbiasa dengan kehidupan kami yang tanpa ayah dan tanpa apa-apa, awalnya banyak teman dan kenalan yang penasaran dan bertanya-tanya dengan kondisiku namun tak sedikit pula yang mengejek, menghina bahkan menyalahkan ayahku atas perbuatannya. ‘APA YANG MEREKA TAHU TENTANG AKU DAN KELUARGAKU? APA YANG MEMBUAT MEREKA MERASA BENAR MENJELEK-JELEKAN AYAHKU KETIKA MEREKA TIDAK BERBUAT APA-APA?!’ Semakin mereka mengejekku, semakin dingin hatiku karena begitu panas amarah yang kusimpan dan tak kukeluarkan terus membakar sampai aku tidak merasakan apa pun. Guru-guru hanya bisa memandangku iba tanpa pembelaan, dan masyarakat hanya mengenang ayahku dalam sepintas ulasan televisi yang hanya berdurasi lima menit. Bagaimana aku terluka? Tidak ada yang membahasnya, bahkan tidak ada yang berusaha mencari tahu siapa pelakunya, tidak ada yang menyiarkannya, tidak ada yang menulisnya. Semua hanya bisa aku tulis dalam benak dan hatiku. ‘AKU TIDAK AKAN MENGAMPUNI SEMUANYA!’ sambil terus mengucapkannya dalam hati dan terus berharap aku menjadi kuat.

BAGAIMANA DUNIA MELIHATMU ~ Prologue



Seandainya aku tidak terlahir, apakah hal ini tidak akan terjadi? 

Seandainya aku tidak mengalami hal itu, apakah hal ini tidak akan terjadi?

Apakah ini hanya mimpi buruk?

Selama 10 tahun ini aku terus mengulangi pertanyaan yang sama, apa yang mengawali pertanyaanku ini? Aku terlahir dari pasangan yang bekerja sebagai pedagang kaki lima, memiliki tiga orang saudara yang usianya terpaut berdekatan denganku. Setiap hari setelah aku bersekolah, aku membantu mereka dengan menjadi pedagang asongan yang menjual gorengan di terminal. Aku sudah merasa puas sekalipun kehidupan kami sangat berkekurangan, kadang kami makan sehari dua kali dan pernah pula kami tidak makan selama sehari. Bohong bila kadang aku tidak mempertanyakan kenapa aku harus hidup seperti ini. Namun, sekalipun aku pernah mempertanyakannya, bukanlah keinginanku bila pertanyaanku ini yang menyebabkan ini semua terjadi.

Greetings 2016 and "Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437H"

Greetings, setelah hibernasi yang cukup panjang, saya memutuskan untuk memulai menulis lagi.
Greetings, after a long hibernate, i decide to writting again.

Sebelum saya meng-post-kan karya tulisan saya, saya ingin mengucapkan "Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437H" bagi yang merayakan.
Before i posting my story, i want to say "Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437H" for those who celebrate it.

Karya ini merupakan karya yang belum pernah saya publish dan masih banyak kekurangan, harap dimaklumi. Terima kasih.
The story that i make haven't published and still lacking in some areas, please enjoy it. Thank you.

PS : My story is written in Indonesia langguage 

 Hibiki from Devil Survivor 2