10 tahun yang lalu...
“Salim, ibu dan bapak nanti akan
berjualan sampai malam di Pasar Depok sehingga kami tidak bisa menyiapkan makan
malam untuk kamu dan adik-adikmu, jadi kalau kamu selesai berjualan terlebih
dahulu ibu titip adik-adikmu ya. Seta, Rudi, Ani jangan nakal di sekolah,
belajar yang tekun supaya bisa jadi orang besar. Jangan seperti ibu dan bapak.
Kamu juga Salim, ibu dan bapak berangkat dulu.” Ibu mengangkat barang
dagangannya ke luar menuju ke motor yang telah di siapkan bapak.
“Baik bu.” Jawabku serentak
dengan adik-adikku. Kami membantu membawa beberapa barang dagangan beliau dan
setelah itu berpamitan pada ibu dan bapak kami.
Aku satu sekolah dengan
adik-adikku, Seta yang hanya beda satu tahun denganku duduk di kelas lima,
sedangkan Rudi berbeda tiga tahun denganku duduk di kelas tiga dan Ani duduk di
kelas satu. Kami bersekolah di sekolah negeri yang dekat dengan rumah kami.
Sejak Ani lahir, aku mulai membantu kedua orangtuaku berjualan dengan menjadi
pedagang asongan di terminal. Biasanya
setelah pulang sekolah, aku mengantar pulang kedua adikku, kemudian
mengambil barang jualanku dan pergi ke terminal untuk berjualan. Bila terminal
ramai, biasanya barang daganganku akan cepat terjual namun bila sepi, aku harus
berjualan sampai malam atau aku harus mencari tempat jualan yang lain. Sayang
sekali sampai saat ini aku tidak berani untuk berjualan di tempat lain, aku
berjualan di terminal karena aku memiliki banyak kenalan di sini dan sekalipun
ada preman, mereka mengenal orang tuaku dan melepaskanku. Walau itu tidak
sepenuhnya benar, kadang bila mereka lapar mereka akan minta gorengan yang aku
jual. Tapi itu lebih baik dibandingkan harus dipalak di tempat lain. Di tempat
lain, aku tidak akan pulang membawa uang sepeser pun tetapi aku juga akan
pulang dipukuli. Hal ini sudah menjadi rutinitasku, dan aku bukanlah orang yang
baru melakukannya, aku sudah melakukan ini selama enam tahun.
Apakah aku mempunyai masalah di
sekolah? Aku tidak sempat membuat ulah, aku hanya bisa belajar sebisaku di
sekolah karena aku tahu bahwa setelah aku pulang aku tidak akan sempat belajar.
Merawat adik-adikku bukanlah hal yang mudah, ditambah lagi membersihkan rumah
dan merapikan dapur. Kadang ada kalanya aku terpikirkan, bagaimana bila menjadi
seperti anak-anak yang lain? Sepulang sekolah, bermain dengan teman sebaya dan
belajar dibantu seorang tutor di rumah. Nilaiku tidak terlalu bagus namun tidak
terlalu jelek, aku tidak menonjol di kelas karena aku bukan anak yang terlalu
ramai, aku juga tidak pernah berbuat masalah. Aku merasa keberadaanku di kelas
seperti angin, pernah aku terpikirkan untuk menyampaikan pada orang tuaku bahwa
lebih baik aku tidak bersekolah saja. Lebih baik aku bekerja membantu mereka,
dibandingkan aku duduk mendengarkan pelajaran yang sering aku pertanyakan
’kapan ini dipakai?’. Matematika memang pelajaran yang baik namun aku meragukan
pelajaran itu juga, karena ketika aku membantu orang tuaku itu menghitung
memang diperlukan sekalipun saat itu aku masih belum mengenal pelajaran
matematika. Sekalipun aku pernah berpikir seperti itu, aku tidak pernah
mengutarakan hal itu.
Hari ini adalah hari yang sama
seperti hari yang lain, setelah pulang sekolah aku menjemput adik-adikku dan
mengantar mereka ke rumah.
“Seta, Rudi, Ani, kakak mau
dagang di terminal, jadi jaga rumah ya.” Aku mengatakannya sambil meletakkan
tasku dan berganti pakaian .
“Baik Kak.” seru mereka serempak.
Aku hanya bisa membalas mereka dengan senyuman, sekalipun mereka masih kecil
mereka paham situasi ekonomi yang sedang orang tua kami hadapi. Selama aku
berjualan, mereka membantu membersihkan rumah sebisa mereka. Bahkan sekarang
Seta sudah bisa menyiapkan makanan bila aku pulang terlambat. Jujur dalam hati,
aku bangga dengan adik-adikku. Aku hanya berharap aku bisa segera menghasilkan
uang untuk membantu orang tua kami dan menunjang hidup adik-adikku.
Aku keluar rumah dan seperti
biasa mengambil barang daganganku. Berjalan seperti biasa ke terminal dan mulai
menjual gorengan yang aku bawa. Apa ada yang menyangka apa yang akan terjadi
pada hari ini? Aku melihat seorang bapak yang nampaknya akan mencopet seorang
ibu, bapak itu sambil menoleh-noleh mulai mengulurkan tangannya.
“GORENGAN-GORENGAN! PAK MAU BELI
GORENGAN?!” jeritku. Sontak bapak itu menarik tangannya sambil mempelototiku,
apa daya aku hanya bisa menatap polos padanya.
“Bu, mau beli gorengan? Satu
harganya tiga ribu.” Tanyaku pada ibu yang nyaris menjadi sasaran copet.
“HAH?! Minggir saya sibuk,
lagi pula saya tidak suka gorengan” serunya.
Jangan marah, aku hanya berjalan
melewati ibu tersebut. Bukan hal yang aneh jika ada yang merespon seperti ibu
tersebut, namun sangat jarang bila meresponnya dengan amarah bila aku
menawarkannya baik-baik. Kalau bapak pencopet tadi yang marah, rasanya wajar
namun ibu ini, ah.. aku tidak mau berpikiran buruk. Setelah berputar
mengelilingi terminal beberapa kali barulah daganganku habis dan sudah jam lima,
waktunya aku pulang dan menyiapkan makanan.
“Mau pulang? Tidak bagi-bagi?”
Tiba-tiba bapak yang aku gagalkan aksinya menghadangku.
Aku terkejut, dan mencoba lari.
“Eits.. jangan langsung lari” ada seseorang yang menghadangku.
Aku panik, “Kenapa?” pertanyaan
itu terlontar.
“Kami datang minta bayaran buat
yang tadi.” Kata orang yang menghadangku sambil memegang erat tanganku.
Aku mencoba berteriak minta
tolong namun dengan sigap bapak yang aku kenali sebagai pencopet itu membekap
mulutku sambil berbisik “Jangan teriak di sini.”
TAKUT... Aku mau pulang....
Ayah.... Ibu....Seta.... Rudi... Ani.... Siapapun.... TOLONG AKU....
Sekuat apapun aku meronta, mereka
tidak melepaskanku. Sambil menyeretku ke tempat sepi, mereka mulai memukulku
“DIAM!” “SIAL, GARA-GARA KAMU KAMI TIDAK
DAPAT APA-APA HARI INI” “Di sini saja”
Mereka mulai mencari uang di
pakaianku, “WAH, ini lumayan!” “Hehehe..” Ketika mereka merampas uangku, aku
mulai merasa marah! Aku mengigit tangan yang membekapku sekuat tenaga hingga
tangan itu berdarah. “SIAL! KURANG AJAR KAU BOCAH!” Tangannya yang lain segera
memukul kepalaku, sedangkan bapak yang lain membantunya memukuliku. “Bocah ini
harus dapat pelajaran, kita hajar sampai tidak sadarkan diri saja” “Mati juga
tidak apa, kita buang ke pembakaran sampah saja.” Aku merasa kepalaku penuh
darah dan mulai tidak sadarkan diri. Aku hanya bisa berpikir, ‘KENAPA?’.
Aku terbangun di tempat yang aku
tidak kenali, aku tidak bisa menggerakkan badanku. Aku merasa pusing, dan haus.
“SALIM!” jerit ibuku dengan penuh
tangisan. Aku hanya berpikir apakah ini mimpi atau aku sudah mati?
“SALIM!!” ibuku memelukku erat,
aku melihat wajah adik-adikku yang turut menangis seperti ibuku.
“Ibu, aku dimana?” ujarku namun
suaraku tidak terdengar? Aku mencoba mengulanginya lagi namun aku tidak bisa
mendengarkan suaraku? Ada apa ini? Aku berusaha bertanya, namun ibu masih
histeris dan adik-adikku masih menangis. Seorang dokter datang dan menjawab
pertanyaanku itu.”Nak, kamu sudah dirawat di rumah sakit selama lima hari dan
tidak sadarkan diri. Kamu beruntung kamu bisa selamat, kamu ditemukan dengan
kondisi yang sangat parah dan kami tidak bisa memulihkanmu sepenuhnya.
Sepertinya pita suaramu rusak akibat patahnya tulang lehermu saat kamu jatuh
dari gedung berlantai tiga. Sekarang kondisimu sudah normal, istirahat yang
cukup karena kamu masih belum pulih.” Ah... Apa yang harus aku lakukan? Aku
hanya bisa merasakan air mata yang mulai menetes keluar dari mataku.
Aku tidak tahu! AKU TIDAK TAHU!
Demi membayar uang operasiku, ayahku mencoba mencuri di sebuah penggadaian.
KENAPA? Dua hari setelah aku sadar, aku tidak melihat ayahku dan mencoba
menanyakannya pada ibuku. Ibuku sambil menangis dan terisak menceritakan
padaku, ayahku tertangkap saat merampok sebuah penggadaian untuk biaya rumah
sakitku. Saat ketahuan merampok, ayahku dihajar orang di sekitar penggadaian
dan meninggal di tempat. Saat ini ibuku mencoba membayar rumah sakit dengan
menjual semua yang kami miliki dan beberapa tetangga yang simpati dengan
kondisiku juga menyumbangkan sedikit uang mereka. Hatiku hancur! Aku ingin
menjerit “MENGAPA AKU TIDAK MATI SAJA?! MENGAPA?!” aku menangis meraung-raung
tanpa suara, hanya air mataku yang terus mengalir. “APA YANG SALAH? MENGAPA INI
SEMUA TERJADI? TUHAN, INIKAH YANG HARUS AKU ALAMI?” Setelah aku selesai
menangis, aku memaksa ibuku untuk mengeluarkan aku dari rumah sakit. Karena
kondisi kami, rumah sakit mengizinkannya dengan kontrak bersyarat mengingat aku
adalah korban pembunuhan dan masih kecil. Dokter yang merawatku ternyata
membantu biaya operasiku, dia hanya bisa menatapku dengan sedih dan tak bisa
berkata apa-apa. Aku menuliskan pesan untuknya “Terima kasih Dokter, Siapa nama
Dokter?” Dokter itu menjawab “Fendi, Fendi Haryanto.” Dia beralih pada ibuku
dan berkata “Ibu, maaf saya tidak bisa banyak membantu. Bila ada masalah, Ibu
bisa mencoba menghubungi saya. Ini kartu nama saya.” Sambil menyerahkan
selembar kartu nama dan berjalan menyelusuri lorong rumah sakit yang selama
delapan hari aku dirawat di sana.
Setelah aku keluar dari rumah
sakit, satu kenyataan yang harus kami hadapi adalah kami tidak memiliki
apa-apa. Tidak ada ayah yang menjadi tulang punggung dan mengantarkan ibu
berjualan, tidak ada alat-alat memasak, tidak ada kursi dan meja, tidak ada
lemari, tidak ada televisi, tidak ada radio, tidak ada sepeda motor, tidak ada
sepeda, semuanya tidak ada dan yang tersisa hanya pakaian, buku-buku pelajaran,
alat tulis, tas, sepatu dan sandal. Malam itu, kami semua tidur bersama di atas
kardus, yang kami syukuri adalah masih adanya rumah untuk kami bernaung. Aku
tidak bisa tidur, aku terus terjaga. Sesaat aku mendengar isak tangis
adik-adikku, kemudian aku juga mendengar isak tangis ibuku, mereka menangis
sampai tertidur. Aku tidak bisa menangis, tidak ada yang bisa kutangisi ketika
hatiku terasa kering dan darahku seperti berhenti mengalir. Inikah cobaan yang
harus kami hadapi? Aku terus bertanya-tanya hingga pagi menjelang dan kami
memulai aktivitas kami.
Selama seminggu ini kami mulai
terbiasa dengan kehidupan kami yang tanpa ayah dan tanpa apa-apa, awalnya
banyak teman dan kenalan yang penasaran dan bertanya-tanya dengan kondisiku
namun tak sedikit pula yang mengejek, menghina bahkan menyalahkan ayahku atas
perbuatannya. ‘APA YANG MEREKA TAHU TENTANG AKU DAN KELUARGAKU? APA YANG
MEMBUAT MEREKA MERASA BENAR MENJELEK-JELEKAN AYAHKU KETIKA MEREKA TIDAK BERBUAT
APA-APA?!’ Semakin mereka mengejekku, semakin dingin hatiku karena begitu panas
amarah yang kusimpan dan tak kukeluarkan terus membakar sampai aku tidak
merasakan apa pun. Guru-guru hanya bisa memandangku iba tanpa pembelaan, dan
masyarakat hanya mengenang ayahku dalam sepintas ulasan televisi yang hanya
berdurasi lima menit. Bagaimana aku terluka? Tidak ada yang membahasnya, bahkan
tidak ada yang berusaha mencari tahu siapa pelakunya, tidak ada yang
menyiarkannya, tidak ada yang menulisnya. Semua hanya bisa aku tulis dalam
benak dan hatiku. ‘AKU TIDAK AKAN MENGAMPUNI SEMUANYA!’ sambil terus
mengucapkannya dalam hati dan terus berharap aku menjadi kuat.
